Selasa, 21 Februari 2023

 

Ketika minat baca membeludak, akhirnya beli buku ini.

Repost from Al-Asyfah Penaku (my 2nd blog account)

Jumat, 06 Februari 2015


Memasuki perkuliahan semester dua, semangatku masih berapi-api. Ditengah kesibukan mengurus rencana studi yang membuat jenuh dan lelah. Harus bolak-balik demi beberapa goresan tinta dosen. Namun, jangan berfikir itu menjadi beban bagiku, aku dengan senang hati mengerjakannya. Juga, ditengah sibuknya organisasi yang mengejar agenda-agenda bulanan. Sekali-kali tak apa jika aku merefresh keadaan, jenuh dan lelah. Dan kebiasaannya aku langsung balik ke kost. Namun, kali ini tidak, aku menyempatkan jalan-jalan ke Gramedia bersama temanku.
Awalnya, aku hanya ingin menengok biola yang tergantung manis di toko bagian musik gramedia. Itu calon milikku, yeah! Aku begitu berambisi untuk membeli sebuah biola. Entah mengapa, setiap melihatnya laksana seperti mimpi kemarin yang terwujud. Melihat biola membuatkuterkagum-kagum meski aku belum bisa memainkannya. Tapi, lirihku, yang penting aku memilikinya.
Semua orang tahu, dan semua orang pasti punya kebiasaan yang sama, ketika memasuki sebuah Gramedia, seseorang kan menuju ke rak-rak buku yang beraneka ragam, dari kecil hingga besar, beraneka warna, beraneka rasa. Hehe
Aku tidak begitu menyukai kebiasaan membaca, tetapi aku berinisiatif untuk menjadi penulis. “aneh” itulah ungkapan yang sering ku dapat dari beberapa rekanku. Yah, aku menyukai buku, hanya buku yang ku lihat dari judulnya atau tampilannya. Aku memiliki beberapa novel, di antaranya secreet admirer, Hurt, jatuh cinta diam-diam, dan beberapa buku antalogi cerpen yang juga namaku termaktub dibagian bio penulis. Isi buku-buku  novel tersebut belum pernah tersentuh oleh mataku. Namun covernya (judulnya) lah yang menyentuh hatiku. Ok, done.
 Disaat keinginan hati mengajakku untuk melihat buku-buku karya dari anak muda sampai tua. Sampai sekarang, kebiasaanku hanya membaca judulnya, karena judul adalah kata kunci dari isinya. Terkadang aku lanjut membaca sinopsisnya. Kalau bisa dibuka, aku melihat usia penulisnya. Itulah yang memotivasi untuk berkarya juga. Yah, aku memang bukan penulis sejati. Aku menulis ketika ku ingin menulis, hanya modal perasaan tanpa kembali menyentuhnya dengan hati, maksudnya ketika aku ingin menulis yah aku tulis, sangat jarang aku kembali memahaminya dengan hati kembali. Karena perasaan, yah. Perasaan kadang membuat bingung, difikirkan bertambah, tidak difikirkan ia datang sendiri. Aku menulis hanya menuangkan perasaan agar tidak begitu terfikirkan. Aku seorang pemikir, ketika aku berfikir, waktupun kadang terlupakan. Entahlah, aku terkadang tersiksa dengan keadaan itu.
Dipojok dekat kasir, beberapa judul buku tersusun dengan indah, seperti buku yang begitu di istimewakan keadaannya, ditambah dengan background rak juga covernya lucu, warna pink. Bagaimana bisa ku lewatkan, aku tentu tertarik untuk melihatnya. Ku dekati dan ku baca judul-judulnya, beberapa judul memikat hati, tapi, ah takkan ku baca. Lalu aku mencoba membalik buku tersebut dengan membaca sinopsisnya. “KENA!” kena banget dihati dan keadaan sekarang. Sempat bingung di gramed, beli atau tidak, temanku bilang “ nggak usah kalau nggak dibaca”. Haha, kali ini benar-benar ingin membaca. 



Dan ini, buku yang berhasil mengeluarkan beberapa kertas berharga dari persembunyiannya. Buku ini benar-benar menarik, dari judul , sinopsis bahkan covernya hehe. Tapi tunggu, ada salah satu buku examplenya yang dapat dilihat isinya, maka dari itu, begitu semangat pengen membacanya.
Dalam buku tersebut, ada beberapa hal yang benar-benar memberi pelajaran, antara lain, mengetahui perbedaan mana cinta mana nafsu, mengetahui seseorang yang benar mencintaimu, dan orang yang pantas dicintai. Namun tidak menyudutkan Maha Pencipta sebagai pencipta rasa CINTA. Iya, buku ini di awali dengan membahas karakter cinta hingga bagaimana mewujudkan cinta dengan proposal penting hingga jenjang pernikahan. Buku ini sebenarnya lebih mengarah pada pembacanya laki-laki, tapi kok covernya pink, hehe.
Mungkin selama ini banyak orang bertanya dengan berlagak bodoh “adakah pacaran islami?”
Padahal sebenarnya ia sendiri mampu menjawabnya, tetapi dalam nyata maupun buku ini, ada dua jawaban.
Ada beberapa kutipan penting, yakni :
Cinta selalu mengajak pada kebaikan, sedangkan nafsu selalu mengajak pada kerusakan.Cinta mendekatkan pada ibadah yang hebat, sementara hawa nafsu mendekatkan pada maksiat. Cinta tak hanya berfokus pada kesenangan semata. Cinta memikirkan kebaikan masa depan. Sedangkan hawa nafsu hanya memikirkan kesenangan saat ini tanpa pikir panjang tentang kebahagiaan masa depan. Cinta berlandaskan akal dan nurani sedangkan nafsu berlandaskan ego pribadi.
Cinta adalah fitrah Tuhan atas seluruh makhluk-Nya. Cinta terbaik adalah ketika kau mencintai seorang kekasih yang membuat imanmu mendewasa, takwamu bertumbuh, dan cintamu kepada-Nya juga bertumbuh. Cinta terbaik adalah saat kau mencintai seseorang yang membuat akhlakmu makin indah, jiwamu makin damai, hatimu makin bijak. Dia jadi penegur saat taatmu luntur. Dia jadi penasehat saat kau bermaksiat. Dia jadi pelipur saat semangatmu lebur. Ya, dialah cinta terbaik, yang tidak hanya ingin bersamamu didunia,tetapi juga bertemu kembali di surga.
Sekali lagi, bedakan antara cinta dan nafsu, CINTA DATANG DARI TUHAN, NAFSU DATANG DARI SETAN.
Dan, Rasulullah pernah menjawab pertanyaan umatnya “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta, kecuali pernikahan.”
Subhanallah.. siapakah orang yang mampu menjadi cinta terbaikku?
Wanita mana yang tidak ingin mencintai orang yang juga mencintainya, dan lelaki mana yang tidak mau memiliki wanita yang solehah yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya?
Maka memantaskan diri adalah jalan utamanya, memperbaiki diri adalah tujuan pertamanya. Namun, ingat, kita bertaubat niatkan untuk mendekat kepada-Nya. Agar selalu dalam lindungannya, diberi rahmat dan petunjuk oleh-Nya. Agar selalu meraih ridho-Nya. Aaamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar