Sabtu, 28 Mei 2016

Jeritan Hati



~~~
Dadaku sesak, nafasku tersengal-sengal. Bukan diada-ada, bukan dibuat-buat. Tapi itulah adanya, ya, sudah 3 hari ini, semuanya menjadi “lain”. Secara sadar diriku tertatih-tatih bangun dari kenyataan, secara sadar membiarkan air mata berderai. Dibilang belum percaya tapi sudah jelas kenyataannya. Dibilang percaya tapi akal dan hati belum bisa menerima seutuhnya.
Bukan karena aku wanita yang lemah, cengeng, tidak berdaya atau sebagainya. Tapi secara akal, adakah yang sanggup sepertiku tanpa air mata. Bersyukur aku masih dipelihara Tuhan, yang memberikan hati kuat dan mampu bertahan. Linangan air mata mulai mengering tanpa sentuhan.
Tapi jangan tenang akan itu, aku hanyalah perempuan yang biasa dan mempunyai batas. Sampai detik ini, Tuhan begitu baik. Hingga masih memberikan kesempatan dan mengisyaratkan sesuatu baik untuk aku ataupun dirimu.

Calon pendampingku, maaf aku belum bisa seutuhnya menyerahkan ini semua terhadap sang pencipta. Aku punya perasaan, yang harus diselesaikan dengan perasaan. Bukan tentang perasaan diselesaikan dengan akal. Pahamilah wahai calon pendampingku, sehebat apapun wanita, tak ingin diperlakukan sama, juga tak ingin dibedakan. Wanita memang terkadang sulit dipahami, karena laki-laki hanya memandang secara logika. Wanita mempunyai perasaan yang halus, namun pada dasar dan kenyataannya ia memiliki rasa kasih yang begitu besar, terlebih jika ia sudah mampu menyebutkan seseorang yang dicintainya dalam tadahan doanya. Tidak selamanya wanita dianggap lemah, dan tidak selamanya juga wanita itu kuat. Sekuat apapun,dan sehebat apapun, ia tetap membutuhkan laki-laki yang telah memberikannya tulang rusuk. Meski wanita tidak dinobatkan untuk mencari, namun pada hakikatnya ia mencari.

Calon pendampingku, ini tentang perasaanku. Wanita mana yang sanggup menahan air mata ketika ditengah-tengah hubungan yang telah dibangun dengan kokoh,dengan pondasi ketulusan, tak terkecuali cinta dan kasih sayang yang di hadirkan setiap hari didalamnya, harus retak karena badai datang, baik pakai permisi atau tanpa permisi, bagaimanapun kehadirannya tetap tidak diinginkan. Apalagi, saat badai itu datang, kau malah membuka pintu untuk menyaksikkannya, sehingga apa? Kau fikirkan sendiri apa yang terjadi..

Calon pendampingku, ku mohon pahami lagi tentang wanita, terlebih yang telah bersamamu sekian lama. Aku tidak ingin ada rasa sesal jika kita salah dalam menyelesaikan masalah. Aku tahu niatmu baik, namun jika kebaikanmu dapat menyakiti orang lain. Apa jadinya?
Mohon jangan sampai mengorbankan perasaan orang lain demi memuaskan hatimu, sekalipun tidak bermaksud menyakiti.

Semoga kita bisa melewatinya biyaa, agar rasa cinta ini semakin besar dan kokoh, tanpa harus menyakiti perasaan orang lain juga.
Uhibbuka fillah, AIM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar