~~~
Dadaku sesak, nafasku
tersengal-sengal. Bukan diada-ada, bukan dibuat-buat. Tapi itulah adanya, ya, sudah
3 hari ini, semuanya menjadi “lain”. Secara sadar diriku tertatih-tatih bangun
dari kenyataan, secara sadar membiarkan air mata berderai. Dibilang belum
percaya tapi sudah jelas kenyataannya. Dibilang percaya tapi akal dan hati
belum bisa menerima seutuhnya.
Bukan karena aku wanita yang lemah,
cengeng, tidak berdaya atau sebagainya. Tapi secara akal, adakah yang sanggup
sepertiku tanpa air mata. Bersyukur aku masih dipelihara Tuhan, yang memberikan
hati kuat dan mampu bertahan. Linangan air mata mulai mengering tanpa sentuhan.
Tapi jangan tenang akan itu, aku
hanyalah perempuan yang biasa dan mempunyai batas. Sampai detik ini, Tuhan
begitu baik. Hingga masih memberikan kesempatan dan mengisyaratkan sesuatu baik
untuk aku ataupun dirimu.
Calon pendampingku, maaf aku belum
bisa seutuhnya menyerahkan ini semua terhadap sang pencipta. Aku punya perasaan,
yang harus diselesaikan dengan perasaan. Bukan tentang perasaan diselesaikan
dengan akal. Pahamilah wahai calon pendampingku, sehebat apapun wanita, tak
ingin diperlakukan sama, juga tak ingin dibedakan. Wanita memang terkadang
sulit dipahami, karena laki-laki hanya memandang secara logika. Wanita mempunyai
perasaan yang halus, namun pada dasar dan kenyataannya ia memiliki rasa kasih
yang begitu besar, terlebih jika ia sudah mampu menyebutkan seseorang yang dicintainya
dalam tadahan doanya. Tidak selamanya wanita dianggap lemah, dan tidak
selamanya juga wanita itu kuat. Sekuat apapun,dan sehebat apapun, ia tetap membutuhkan
laki-laki yang telah memberikannya tulang rusuk. Meski wanita tidak dinobatkan
untuk mencari, namun pada hakikatnya ia mencari.
Calon pendampingku, ini tentang
perasaanku. Wanita mana yang sanggup menahan air mata ketika ditengah-tengah
hubungan yang telah dibangun dengan kokoh,dengan pondasi ketulusan, tak terkecuali
cinta dan kasih sayang yang di hadirkan setiap hari didalamnya, harus retak
karena badai datang, baik pakai permisi atau tanpa permisi, bagaimanapun
kehadirannya tetap tidak diinginkan. Apalagi, saat badai itu datang, kau malah
membuka pintu untuk menyaksikkannya, sehingga apa? Kau fikirkan sendiri apa
yang terjadi..
Calon pendampingku, ku mohon pahami
lagi tentang wanita, terlebih yang telah bersamamu sekian lama. Aku tidak ingin
ada rasa sesal jika kita salah dalam menyelesaikan masalah. Aku tahu niatmu
baik, namun jika kebaikanmu dapat menyakiti orang lain. Apa jadinya?
Mohon jangan sampai mengorbankan perasaan orang lain demi memuaskan hatimu, sekalipun tidak bermaksud menyakiti.
Mohon jangan sampai mengorbankan perasaan orang lain demi memuaskan hatimu, sekalipun tidak bermaksud menyakiti.
Semoga kita bisa melewatinya biyaa,
agar rasa cinta ini semakin besar dan kokoh, tanpa harus menyakiti perasaan
orang lain juga.
Uhibbuka fillah, AIM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar