Selasa, 21 Februari 2023

 

Bintang I ☆

Repost from my 2nd blog account (23 Maret 2014)
Tenggelamkah kau bintang?
ataukah kau hanya tertutup awan malam?
Bisakah kau tampakkan cahayamu, sedetik saja.
Aku rindu dimana disaat ku ingin terlelap
Ada sinarmu yang membuatku tersenyum
Angin malam kibaskan poniku
agar terlihat jelas bintang malam ini
Angin malam tusukkan kedalam tulangku
Agar aku bisa merasakan kehangatan dari bintang itu
Salahkah aku mencarimu wahai bintang?
sudah ku katakan, aku merindukanmu
Aku ingin melihatmu tanpa membuka kedua jendelaku
Tanpa menangis bersedu dalam sepi ini


Syarifah U.
18.12

 

☆ Bintang II

Repost from my 2nd blog account (Senin, 24 Maret 2014)
Sinarmukah itu?
Ku kira sinarmu sudah lenyap
Ku kira sinarmu takkan lagi ada
Ku kira sinarmu, mati
Ku berjalan menelusuri jalan setapak
Ketika itu, kau ada, kau dekat
dan kau sangat nampak
Sinarmu bukan untukku, aku bisa merasakan dg erat
Dalam lubuk yang terdalam
Aku bersyukur tapi ku benci
Karena ku tahu setelah ini
Sinarmu hilang selamanya
Tuhan, memang telah menjawab satu harapan
Tapi jangan buatku kembali dalam kehampaan
Jangan buatku memutar balik arah
Karena ku telah berlari kedepan, menelusuri jalan yang indah
Sinarmu memang terang
Tapi takkan kubiarkan kembali menyinari setiap gelapku
Kamu memang datang tanpa bayangan
Tapi aku dan kamu, takkan kembali seperti dulu


19:45

 

Surat Lama

Repost from my 2nd blog account ( Kamis, 01 Mei 2014)


Oleh Syarifah Ulfah

 Terik matahari menembus kaca tipis
Rasa sunyi tentu membuatku mengantuk
Langit-langit kamar yang terlihat manis
Menuntun kembali pada suasana yang mulai tak berbentuk

Aku tersenyum, berusaha menjadi seperti apa yang kamu bilang
Aku akan baik-baik saja, karena aku kuat
Aku tersenyum, berusaha agar air mata tak kembali datang
Aku akan terbiasa, karena kamu percaya

Sebuah surat lama, ku temukan didalam kotak istimewa
Kala itu, kau berikan padaku satu persatu surat itu
Kala itu, terik matahari tak menjadi penghalang olehmu
Kala itu, Hujan dan angin pun tak membuatmu goyah akan itu

Surat lama, penulismu telah pergi
Surat lama, penamu telah hilang
Surat lama, kertasmu telang usang
Dan, surat lama, kau aku abadikan
 

Ketika minat baca membeludak, akhirnya beli buku ini.

Repost from Al-Asyfah Penaku (my 2nd blog account)

Jumat, 06 Februari 2015


Memasuki perkuliahan semester dua, semangatku masih berapi-api. Ditengah kesibukan mengurus rencana studi yang membuat jenuh dan lelah. Harus bolak-balik demi beberapa goresan tinta dosen. Namun, jangan berfikir itu menjadi beban bagiku, aku dengan senang hati mengerjakannya. Juga, ditengah sibuknya organisasi yang mengejar agenda-agenda bulanan. Sekali-kali tak apa jika aku merefresh keadaan, jenuh dan lelah. Dan kebiasaannya aku langsung balik ke kost. Namun, kali ini tidak, aku menyempatkan jalan-jalan ke Gramedia bersama temanku.
Awalnya, aku hanya ingin menengok biola yang tergantung manis di toko bagian musik gramedia. Itu calon milikku, yeah! Aku begitu berambisi untuk membeli sebuah biola. Entah mengapa, setiap melihatnya laksana seperti mimpi kemarin yang terwujud. Melihat biola membuatkuterkagum-kagum meski aku belum bisa memainkannya. Tapi, lirihku, yang penting aku memilikinya.
Semua orang tahu, dan semua orang pasti punya kebiasaan yang sama, ketika memasuki sebuah Gramedia, seseorang kan menuju ke rak-rak buku yang beraneka ragam, dari kecil hingga besar, beraneka warna, beraneka rasa. Hehe
Aku tidak begitu menyukai kebiasaan membaca, tetapi aku berinisiatif untuk menjadi penulis. “aneh” itulah ungkapan yang sering ku dapat dari beberapa rekanku. Yah, aku menyukai buku, hanya buku yang ku lihat dari judulnya atau tampilannya. Aku memiliki beberapa novel, di antaranya secreet admirer, Hurt, jatuh cinta diam-diam, dan beberapa buku antalogi cerpen yang juga namaku termaktub dibagian bio penulis. Isi buku-buku  novel tersebut belum pernah tersentuh oleh mataku. Namun covernya (judulnya) lah yang menyentuh hatiku. Ok, done.
 Disaat keinginan hati mengajakku untuk melihat buku-buku karya dari anak muda sampai tua. Sampai sekarang, kebiasaanku hanya membaca judulnya, karena judul adalah kata kunci dari isinya. Terkadang aku lanjut membaca sinopsisnya. Kalau bisa dibuka, aku melihat usia penulisnya. Itulah yang memotivasi untuk berkarya juga. Yah, aku memang bukan penulis sejati. Aku menulis ketika ku ingin menulis, hanya modal perasaan tanpa kembali menyentuhnya dengan hati, maksudnya ketika aku ingin menulis yah aku tulis, sangat jarang aku kembali memahaminya dengan hati kembali. Karena perasaan, yah. Perasaan kadang membuat bingung, difikirkan bertambah, tidak difikirkan ia datang sendiri. Aku menulis hanya menuangkan perasaan agar tidak begitu terfikirkan. Aku seorang pemikir, ketika aku berfikir, waktupun kadang terlupakan. Entahlah, aku terkadang tersiksa dengan keadaan itu.
Dipojok dekat kasir, beberapa judul buku tersusun dengan indah, seperti buku yang begitu di istimewakan keadaannya, ditambah dengan background rak juga covernya lucu, warna pink. Bagaimana bisa ku lewatkan, aku tentu tertarik untuk melihatnya. Ku dekati dan ku baca judul-judulnya, beberapa judul memikat hati, tapi, ah takkan ku baca. Lalu aku mencoba membalik buku tersebut dengan membaca sinopsisnya. “KENA!” kena banget dihati dan keadaan sekarang. Sempat bingung di gramed, beli atau tidak, temanku bilang “ nggak usah kalau nggak dibaca”. Haha, kali ini benar-benar ingin membaca. 



Dan ini, buku yang berhasil mengeluarkan beberapa kertas berharga dari persembunyiannya. Buku ini benar-benar menarik, dari judul , sinopsis bahkan covernya hehe. Tapi tunggu, ada salah satu buku examplenya yang dapat dilihat isinya, maka dari itu, begitu semangat pengen membacanya.
Dalam buku tersebut, ada beberapa hal yang benar-benar memberi pelajaran, antara lain, mengetahui perbedaan mana cinta mana nafsu, mengetahui seseorang yang benar mencintaimu, dan orang yang pantas dicintai. Namun tidak menyudutkan Maha Pencipta sebagai pencipta rasa CINTA. Iya, buku ini di awali dengan membahas karakter cinta hingga bagaimana mewujudkan cinta dengan proposal penting hingga jenjang pernikahan. Buku ini sebenarnya lebih mengarah pada pembacanya laki-laki, tapi kok covernya pink, hehe.
Mungkin selama ini banyak orang bertanya dengan berlagak bodoh “adakah pacaran islami?”
Padahal sebenarnya ia sendiri mampu menjawabnya, tetapi dalam nyata maupun buku ini, ada dua jawaban.
Ada beberapa kutipan penting, yakni :
Cinta selalu mengajak pada kebaikan, sedangkan nafsu selalu mengajak pada kerusakan.Cinta mendekatkan pada ibadah yang hebat, sementara hawa nafsu mendekatkan pada maksiat. Cinta tak hanya berfokus pada kesenangan semata. Cinta memikirkan kebaikan masa depan. Sedangkan hawa nafsu hanya memikirkan kesenangan saat ini tanpa pikir panjang tentang kebahagiaan masa depan. Cinta berlandaskan akal dan nurani sedangkan nafsu berlandaskan ego pribadi.
Cinta adalah fitrah Tuhan atas seluruh makhluk-Nya. Cinta terbaik adalah ketika kau mencintai seorang kekasih yang membuat imanmu mendewasa, takwamu bertumbuh, dan cintamu kepada-Nya juga bertumbuh. Cinta terbaik adalah saat kau mencintai seseorang yang membuat akhlakmu makin indah, jiwamu makin damai, hatimu makin bijak. Dia jadi penegur saat taatmu luntur. Dia jadi penasehat saat kau bermaksiat. Dia jadi pelipur saat semangatmu lebur. Ya, dialah cinta terbaik, yang tidak hanya ingin bersamamu didunia,tetapi juga bertemu kembali di surga.
Sekali lagi, bedakan antara cinta dan nafsu, CINTA DATANG DARI TUHAN, NAFSU DATANG DARI SETAN.
Dan, Rasulullah pernah menjawab pertanyaan umatnya “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta, kecuali pernikahan.”
Subhanallah.. siapakah orang yang mampu menjadi cinta terbaikku?
Wanita mana yang tidak ingin mencintai orang yang juga mencintainya, dan lelaki mana yang tidak mau memiliki wanita yang solehah yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya?
Maka memantaskan diri adalah jalan utamanya, memperbaiki diri adalah tujuan pertamanya. Namun, ingat, kita bertaubat niatkan untuk mendekat kepada-Nya. Agar selalu dalam lindungannya, diberi rahmat dan petunjuk oleh-Nya. Agar selalu meraih ridho-Nya. Aaamiin

Sabtu, 28 Mei 2016

Jeritan hati (part 2)



Bagaimana bisa kamu mampu mengatakan jika tidak ada aku, maka yang kau perjuangkan untuk jadi pendampingmu adalah dia.
Dimana kau taruh hatimu sayang? Selembut kapas pun kau mengatakan itu, itu tetap bagai sayatan. Kau anggap apakah aku ini hanya pendengar setiamu sayang?
Sekali lagi, itu tetaplah sayatan. Semakin sering kau menyebutkannya, bukan kah ia akan menjadi luka yang besar?
Sayang, ini hati. Bukan karet, yang ditimpuk dengan benda apapun, baik keras atau lembut tetap kembali seperti semula. Jadi sekali lagi, ini hati bukan karet sayang.
Bisa-bisanya kamu mengatakan seperti itu ditengah hubungan yang sudah kita jalin sangat lama, hanya karena kehadirannya yang katanya dengan maksud baik, hanya karena kehadirannya yang menurutmu  mampu untuk menjadikan ‘hidupmu akan lebih baik’. Dan, katamu,untuk ‘hidup kita akan lebih baik’. Jangan remehkan kata suka, karena suka dapat menumbuhkan cinta. Lalu bagaimana nasib cinta yang sudah tumbuh dengan subur? Apakah kau memikirkan itu? Apakah kau akan membiarkannya layu hanya karena bunga yang baru kau tanam lebih menarik warnanya?
Tentang dirimu yang tidak mau kehilangan bunga-bunga itu. Aku tidak mampu berkata-kata tentang hal ini. Aku memilih untuk menenangkan hatiku,dan meyakinkan hatiku bahwa kamu tidak akan meninggalkanku, dan tetap memposisikanku sebaik-baiknya posisi. Ya, diri ini hanyalah mampu sebatas berkata-kata, tidak ada yang dapat dibanggakan. Aku hanya seseorang yang berusaha, agar menjadi salah satu diantara yang lainnya, yang mampu tegar dalam perjuangan cinta, tanpa terlupa berserah diri kepada-Nya, Sang Pemilik cinta.

Jeritan Hati



~~~
Dadaku sesak, nafasku tersengal-sengal. Bukan diada-ada, bukan dibuat-buat. Tapi itulah adanya, ya, sudah 3 hari ini, semuanya menjadi “lain”. Secara sadar diriku tertatih-tatih bangun dari kenyataan, secara sadar membiarkan air mata berderai. Dibilang belum percaya tapi sudah jelas kenyataannya. Dibilang percaya tapi akal dan hati belum bisa menerima seutuhnya.
Bukan karena aku wanita yang lemah, cengeng, tidak berdaya atau sebagainya. Tapi secara akal, adakah yang sanggup sepertiku tanpa air mata. Bersyukur aku masih dipelihara Tuhan, yang memberikan hati kuat dan mampu bertahan. Linangan air mata mulai mengering tanpa sentuhan.
Tapi jangan tenang akan itu, aku hanyalah perempuan yang biasa dan mempunyai batas. Sampai detik ini, Tuhan begitu baik. Hingga masih memberikan kesempatan dan mengisyaratkan sesuatu baik untuk aku ataupun dirimu.

Calon pendampingku, maaf aku belum bisa seutuhnya menyerahkan ini semua terhadap sang pencipta. Aku punya perasaan, yang harus diselesaikan dengan perasaan. Bukan tentang perasaan diselesaikan dengan akal. Pahamilah wahai calon pendampingku, sehebat apapun wanita, tak ingin diperlakukan sama, juga tak ingin dibedakan. Wanita memang terkadang sulit dipahami, karena laki-laki hanya memandang secara logika. Wanita mempunyai perasaan yang halus, namun pada dasar dan kenyataannya ia memiliki rasa kasih yang begitu besar, terlebih jika ia sudah mampu menyebutkan seseorang yang dicintainya dalam tadahan doanya. Tidak selamanya wanita dianggap lemah, dan tidak selamanya juga wanita itu kuat. Sekuat apapun,dan sehebat apapun, ia tetap membutuhkan laki-laki yang telah memberikannya tulang rusuk. Meski wanita tidak dinobatkan untuk mencari, namun pada hakikatnya ia mencari.

Calon pendampingku, ini tentang perasaanku. Wanita mana yang sanggup menahan air mata ketika ditengah-tengah hubungan yang telah dibangun dengan kokoh,dengan pondasi ketulusan, tak terkecuali cinta dan kasih sayang yang di hadirkan setiap hari didalamnya, harus retak karena badai datang, baik pakai permisi atau tanpa permisi, bagaimanapun kehadirannya tetap tidak diinginkan. Apalagi, saat badai itu datang, kau malah membuka pintu untuk menyaksikkannya, sehingga apa? Kau fikirkan sendiri apa yang terjadi..

Calon pendampingku, ku mohon pahami lagi tentang wanita, terlebih yang telah bersamamu sekian lama. Aku tidak ingin ada rasa sesal jika kita salah dalam menyelesaikan masalah. Aku tahu niatmu baik, namun jika kebaikanmu dapat menyakiti orang lain. Apa jadinya?
Mohon jangan sampai mengorbankan perasaan orang lain demi memuaskan hatimu, sekalipun tidak bermaksud menyakiti.

Semoga kita bisa melewatinya biyaa, agar rasa cinta ini semakin besar dan kokoh, tanpa harus menyakiti perasaan orang lain juga.
Uhibbuka fillah, AIM